
HI
Siapa yang nggak kenal wajah manis imut ini? Eh… Bahkan yang ngerasa pernah kenal dia pasti tidak hanya pernah kenal wajahnya, tapi juga sekujur tubuhnya saat masih ABG nan seger. Manusia normal manapun pasti ngiler melihat sintal dan segernya pacar gue ini.
Pastinya banyak respon muncul menyikapi perannya sebagai Bokep Star di layar-layar internet seluruh dunia. Ada yang sedih melihat fenomena pergaulan remaja Indiche yang sudah begitu bebasnya, ada yang menyayangkan wajah imutnya jadi korban pergaulan dan santapan mata-mata nakal para penyuka Bokep video, termasuk gue (he… he… he…), ada yang senang dan penuh gairah menyambut akting originalnya di layar internet terutama bagi Bokep Hunter, ada … ada..
Kita cuma tidak tahu apa yang dipikirkan si imut. Oh ya, mungkin hari ini dia sudah cukup dewasa, lulus SMA, sudah kuliah, merit atau apalah. Yang jelas menurutku, dia adalah sebuah fenomena hidup dan kehidupan yang dari dia kita bisa belajar sesuatu kalau kita mau. Dia mungkin sebuah tsunami moral bagi sebagian orang, dan yang jelas, dia telah jadi bencana bagi nama baik ortunya, tapi tak semua bencana hanya memberikan penderitaan. Bencanapun memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masa-masa sesudahnya. Apalagi soal bencana atau karunia dari peristiwa si imut yang suka emut-emut ini sangat tergantung pada dari sisi mana kita melihatnya.
Memang banyak orang berfikir, setiap orang seharusnya hidup seperti ayah ibu dan manusia terdahulu, yang menempatkan seks dan asmara sebagai kebutuhan dan hanya boleh dilakukan dalam pernikahan saja. Bahkan buat para pelindung anak-anak dan remaja, seks hanya miliki mereka yang sudah berusia di atas 16 atau 18 tahun saja. Hampir tidak ada yang berfikir bahwa seks juga merupakan dorongan instingtif yang bisa muncul sejak masa anak-anak. Seks adalah kebutuhan yang melekat pada diri setiap individu, yang dapat saja muncul kapan saja dan mendesak si empunya jiwa untuk segera dipenuhi.
Menurutku, si imut merupakan salah satu manusia yang bahagia untuk urusan ini. Dia termasuk sedikit manusia yang terpenuhi hasrat seksualnya saat pertama kali hasrat itu muncul. Yang lebih bahagia lagi tentu saja si cowok beruntung itu, yang menikmati sisi terindah dunia dari si manis nan imut, yang rambut kemaluannya baru tumbuh, itupun sedikit.
Justeru yang menyedihkan sebenarnya kita-kita ini. Bertahun-tahu sejak hasrat itu muncul, kita mesti menahan, menahan, ngempet dan ngempet terus hasrat kita. Kita terpenjara oleh aturan dan norma-norma yang kita buat sendiri. Kita cukup puas hanya dihibur dengan iming-iming “terbebas dari dosa besar” dan gelar “anak baik-baik”. Padahal pada dasarnya kita “menderita” akibat dorongan hasrat tersebut, dan harus menghibur diri dengan mengalihkan perhatian kita dari yang satu ini.
Apa yang dialami mantan gue tuh merupakan jalan hidup, jalan nasib, yang kebetulan tidak saja dengan kita-kita orang. Dia seperti kita-kita juga, hanya saja kesempatan terindah itu kebetulan hadir dalam sejarah hidupnya. Kebetulan juga, nilai-nilai sosial yang dibuat masyarakat kita tidak menghendaki momen terindah dia terjadi, apalagi terekspose sebegitu luas dan terancam dijerat UU Pornografi.
Comments